kinantinur26dotcom

Just another WordPress.com site

Kumpulan berbagai situs games

                                      

 

 

Tinggalkan komentar »

Kumpulan pantun

Jalan-jalan ke pasar raya                           Satu dua tiga empat                                                     Buah pinang buah belimbing

Jangan lupa membeli buah                       Lima enam tujuh delapan                                         Ketiga dengan buah mangga

Kalau ingin masuk surga                            Cari ilmu sampai dapat                                               Sungguh senang berbapak sumbing

Jangan lupa beribadah                                Untuk bekal masa depan                                            Biar marah tertawa juga

 

Masih kecil minta digendong                    Bertamasya ke tepi pantai

Sudah besar pandai berjalan                    Ombak bergulung-gulung lalu menepi

Jadi anak janganlah sombong                   Agar perjalananmu cepat sampai

Anak sombong dibenci teman                 Naiklah selalu kereta api

Tinggalkan komentar »

Cerpen persahabatan

Persahabatan

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Tinggalkan komentar »

Kumpulan berbagai situs

KUMPULAN LINK PILIHAN

                     

                         

                               

Tinggalkan komentar »

Cerita Misteri Hantu di Rumah Iwin

Begitu masuk kelas, Iwin langsung mengomeli Ninuk,

“Nuk, kok, begitu caramu mengembalikan buku?” Ninuk yang sedang ngobrol jadi terperanjat. “Ma… maaf, Win! Habis….” katanya terbata-bata.

Kemarin Ninuk berjanji akan mengembalikan buku catatan Iwin. Ditunggu sampai menjelang malam, Ninuk tak datang juga.

Namun pagi-pagi Iwin menemukan buku itu tergeletak di teras rumahnya. Basah kuyup. Pasti kena hujan semalam. Iwin jengkel sekali. Ternyata Ninuk telah datang diam-diam.

Tiga hari kemudian, Iwin dibuat kesal lagi. Teman-teman kelompok belajarnya beralasan tak mau datang ke rumahnya.

Ada yang bilang rumah Iwin kejauhanlah. Ada yang neneknya minta diantar ke pasar lah. Mulanya sih Iwin maklum. Tapi kalau terus-terusan begitu dia jadi curiga.

Kecurigaan Iwin akhirnya terbukti. Di kantin, dia tak sengaja mendengar percakapan dua orang teman kelompok belajarnya.

“Besok giliran di rumah Iwin lagi. Aku kehabisan alasan, nih!” kata Anti.
“Rumah Iwin berhantu sih! Aku juga takut ke sana!” sambung Leni.

Deg! Iwin jelas tersinggung. Rumahnya dibilang berhantu? Apa gara-gara itu pula Ninuk tak mau masuk ke rumahnya waktu mengembalikan buku dulu?

misteri hantu rumah iwin

Ilustrasi: blogspot

Huh! Siapa yang iseng menyebarkan gosip seperti itu? Iwin bertekad mencari pelakunya.

Sepulang sekolah Iwin sengaja mengajak Ninuk pulang bersama.

“Nuk, maaf ya! Dulu aku ngomel-ngomel tanpa mendengar alasanmu,” kata Iwin.

”Sekarang aku mau kok mendengarnya!” Ninuk menoleh. Iwin tersenyum manis sekali. Biasa kalau lagi ada maunya.

“Kalau kukatakan janji tidak marah?” tanya Ninuk. Iwin mengangguk serius. Di dalam hati ia sadar. Dirinya memang termasuk pemarah. Mungkin itu sebabnya teman-temannya takut berterus terang padanya.

“Sebenarnya aku takut ke rumahmu,” kata Ninuk pelan.
“Hmm, tadinya sih aku tidak takut. Tapi ketika sampai di halaman rumahmu, aku dengar teriakan ibumu.

‘Buku ajaibnya terbang ke dapur, tuh!’ Aku jadi ngeri. Ada yang bilang, di rumahmu ada hantu wanita yang suka memindahkan barang-barang.”

Iwin mendelik, “Siapa yang bilang?”

“Emi. Dia yang memberitahu anak-anak. Emi heran, sebab dia sering mendengar ibu atau bapakmu teriak, ‘Lho ada saputangan ajaib terbang ke kolong meja.

Eh, kaos kaki ajaibnya terbang ke belakang kulkas. Emi lalu lapor ke ibunya. Dan ibunya menanyakan ke ibumu. Katanya di rumahmu memang ada hantu wanita yang suka memindahkan barang.”

Oo, sekarang Iwin mengerti. Ibunya memang suka bercanda. Yang dimaksud hantu wanita itu pasti Iwin sendiri.

Ia memang teledor. Pulang sekolah, tas dilempar ke meja tamu. Sehabis mandi, handuk dicantel di kursi makan.

Karena bosan, ibunya berkata, “Pokoknya barang-barang Iwin yang diletakkan sembarangan akan ditambah kata ‘ajaib’. Kalau sedang dibutuhkan susah dicari. Kalau tidak dibutuhkan, malah ketemu!”

“Asyik dong, Bu. Iwin jadi lebih hebat dari Nirmala. Dia cuma punya satu tongkat ajaib. Iwin malah punya banyak barang ajaib,” canda Iwin waktu itu.

Sekarang Iwin sadar, kata ‘ajaib’ itu malah merugikan dirinya sendiri. Teman-temannya jadi takut ke rumahnya.

Iwin kini berjanji akan meletakkan barang-barang miliknya pada tempatnya.

Waktunya tak akan lagi terbuang percuma. Hanya untuk mencari pasangan sandalnya yang nyasar ke kolong rak piring.

Pokoknya, sekarang tak akan ada lagi hantu yang suka memindahkan barang di rumah Iwin.

Tinggalkan komentar »

Cerita Misteri Pintu Berukir

Anna membuka pintu kamarnya dan lagi-lagi dia melihat pintu berukir itu terbuka.

Anna merinding. Dia yakin sekali, dia tadi sudah menyuruh bibik pengasuhnya menutup rapat pintu itu.

Perasaan Anna tidak enak. Saat Papa memasang pintu ukir dari Jepara itu, Anna sudah tidak setuju. Anna tidak suka benda-benda berukir yang tampak kuno.

Mister Pintu Berukir

Ilustrasi: Yoan

Anna takut kalau pintu itu ada penunggunya. Dan, nyatanya sekarang, pintu itu suka membuka sendiri.

Lalu ditambah lagi sekarang sering ada suara-suara aneh di rumah. Hiiii…

“Kresek… kresek… “ Suara itu terdengar lagi. Arahnya seperti dari ruangan di balik pintu ukir Jepara itu.

Ruangan itu ruangan yang biasa dipakai tamu-tamu Papa.

Padahal sekarang Anna tahu pasti sedang tidak ada tamu yang menginap.

“Tap… tap… tap!” Suara dari dalam kamar tamu itu semakin keras. Anna berusaha memberanikan diri dan mengayunkan kaki lemasnya ke kamar tamu itu.

Tapi baru jalan beberapa langkah, suara yang lain terdengar, “Eaaaaa…” Hwaaaahhh! Sekarang suaranya seperti suara bayi menangis!

Anna tidak tahan lagi. Ia langsung lari masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, Anna menyusup ke dalam selimut.

Beribu pikiran buruk terbayang. Bagaimana kalau dulu pintu berukir itu pintu kamar tidur seorang Putri Jepara?

Lalu pada zaman penjajahan Belanda, Putri Jepara itu hamil dan dibunuh tentara Belanda? Lalu arwah Putri dan bayinya merasuk ke dalam pintu berukirnya dan menghantui siapa pun yang keturunan Belanda? Huwaaaah! Mama Anna, kan, orang Belanda.

Anna memejamkan mata rapat-rapat berusaha memikirkan hal lain, tapi bayangan Putri Jepara berkonde dan berkebaya putih itu tidak bisa lepas dari benaknya.

Wajahnya yang pucat, bibirnya yang kebiruan, bayi pucat yang menangis di dalam pelukannya. Hwaaaahhh! Anna semakin takut.

“Tap… tap… tap…” terdengar suara langkah kaki di depan kamarnya. Anna semakin dalam masuk ke selimutnya.

Duh, bagaimana kalau tiba-tiba dari dalam selimut ada tangan dingin yang meraih betisnya. Hwaaaaahh! Anna meringkuk semakin erat.

Tiba-tiba plek! Sesosok tangan mengguncang bahunya. “Hwaaaaaaaaahh!! Ampuuuun!” Jerit Anna sekencang-kencangnya.

“Anna! Kenapa? Ini Mama.” panggil pemilik tangan itu. Anna membuka mata. “Mama!” Anna memeluk ibunya.

“Kenapa, Na? Kamu, kok, kayak baru ketemu setan gitu?” tanya Mama.

“Huhuhuhu… Anna takut, Ma, sama pintu ukir Jepara baru itu,” jawab Anna. Mulailah Anna bercerita tentang suara-suara yang didengarnya dan betapa pintu itu selalu membuka sendiri.

Misteri Pintu Berukir

Ilustrasi: Yoan

Anna juga bercerita tentang imajinasinya soal Putri Jepara yang dibunuh Belanda dan menghantui keturunan Jepara.

Mama mau tidak mau tersenyum juga. Anna memang penakut, kebanyakan nonton film horor sih. Imajinasinya jadi suka macam-macam.

“Tenang dulu, Na. Itu cuma imajinasi kamu saja. Adikmu bisa menjelaskannya,” ujar Mama, lalu menoleh ke arah pintu. ”Liana, ayo sini. Jelaskan ke Kak Anna.”

Liana yang masih duduk di kelas dua SD masuk. Matanya yang kebiruan membelalak lebar.

Dia tampak memegang sesuatu di balik syal yang ia lilitkan di depan badannya.

Tiba-tiba… “Eaaaaa…” Huaduh! Suara tangisan bayi itu lagi. Anna mencengkram tangan mamanya.

“Kak Anna, ini Si Manis,” ucap Liana sambil menyingkapkan syalnya, menunjukkan anak kucing yang masih keciiiil sekali.

“Eaaaaa…” anak kucing itu mengeong. Astaga! Ternyata suara tangisan bayi itu adalah suara eongan si kucing kecil itu! Liana menemukannya tergeletak di sudut halaman rumah.

Sejak itu, Liana merawatnya diam-diam di dalam kamar tamu. Pintu Jepara itu sering terbuka sendiri karena Liana suka keluar masuk ke kamar tamu itu untuk memberi makan Si Manis.

“Lianaaa! Kamu bikin kakak jantungan saja! Kenapa tidak bilang dari kemarin, sih?” tanya Anna gemas bercampur malu.

“Soalnya kakak, kan, enggak suka kucing,” jawab Liana polos. “Huffh… daripada hantu Putri Jepara, aku lebih suka kucing, Li,” sungut Anna. Mama dan Liana tertawa.

***

“Krek!” di luar kamar Anna  pintu ukir Jepara itu terbuka pelan. Sesosok putih tembus pandang memandang ke sekeliling rumah.

Rumah besar yang cantik, dua kakak beradik yang harmonis, orang tua yang baik hati dan penyayang.

“Rasanya aku akan betah di sini,” bisik sosok putih itu sambil merasuk kembali ke dalam pintu ukir kuno itu.

Tinggalkan komentar »

Kecelakaan lalu lintas Olivia Dewi

Kemarin, ada kecelakaan lalu lintas yang merengut nyawa Olivia Dewi

Tinggalkan komentar »

Lirik lagu Best Friend Forever

Lirik Lagu Cherry Belle – Best Friend Forever

‘kan selalu bersama dalam suka duka
Berbagi segalanya

Di saat ku termenung kau datang bawa cerita
Di saat ku bahagia kau jaga penuh hatiku
Apapun kisahku kamu ada untukku
Hanya kaulah sahabat sejatiku

Kita ‘kan selalu bersama dalam suka duka
Berbagi segalanya tak terpisahkan
Hanya kau yang ada di hatiku

Kita ‘kan selalu bersama menggapai semua cinta
Dan meraih dunia walau badai menghadang tak akan kita terluka
Cause you are my best friend forever

Di saat ku termenung kau datang bawa cerita
Di saat ku bahagia kau jaga penuh hatiku
Apapun kisahku kamu ada untukku
Hanya kaulah sahabat sejatiku

Kita ‘kan selalu bersama dalam suka duka
Berbagi segalanya tak terpisahkan
Hanya kau yang ada di hatiku

Kita ‘kan selalu bersama menggapai semua cinta
Dan meraih dunia walau badai menghadang tak akan kita terluka
Cause you are my best friend forever

‘kan selalu bersama dalam suka duka
Berbagi segalanya

Kita ‘kan selalu bersama dalam suka duka
Berbagi segalanya tak terpisahkan
Hanya kau yang ada di hatiku

Kita ‘kan selalu bersama menggapai semua cinta
Dan meraih dunia walau badai menghadang tak akan kita terluka
Terluka tak akan kita terluka
Cause you are my best friend forever

Tinggalkan komentar »

Puisi IBU

Untukmu Ibuku

 

Untukmu, Ibuku

Ibu..
Di setiap hembusan nafasku adalah doa untukmu
Doa yang tiada hentinya ku
Panjatkan hanya untukmu

Ibu ku tersayang..
Doa ku akan selalu menyinari mu
dan selalu ada untukmu

Ibu..
Engkau adalah perisai dalam hidupku
Engkau pula bidadari dalam hidupku

Terima Kasih Ibuku sayang
Terima Kasih atas pengorbanan mu selama ini..                      

Karya                   :                    Kinanti Nur Cantika Maharani

 

Tinggalkan komentar »

Foto-foto personil Super Girlies

            

Tinggalkan komentar »